PT. Gaido Azza Darussalam Indonesia


  

You are here: Home

Khutbah Arafah

Surel Cetak PDF
Bismillahirohmannirohim...
Alhamdulilahi nahmaduhu wanastainuhu wanaudubilahi minsururi angfusina wamin syayiati a’malina. Manyahdihi lahu falamudilalah waman yudlilhu falahadiyalahu. Wasyhadu ‘ala ilaha ilallalah washadu ana muhamadarosullallah. Allah humma solli wassallam wabarik ‘ala abdika warosulika syayyidina muhammadin wa’ala alihi washabihi azmain, watabi ‘ina wataba tabi ‘ina waman taba ‘ahum bi ikhsani illayaumidzin, wa ‘ana maahum birohmatika yaarhama rohimin. Amma ba’du.

Segala puji bagi Allah yang menjadikan Baitul Haram sebagai tempat yang aman dan tempat pertemuan manusia dari segenap penjuru alam. Semoga Dia berkenan menambahkan kemuliaan, keagungan, keluhuran, dan kewibawaan.
  • Saya memuji dan bersyukur kepada-Nya dan saya meminta pertolongan, bertaubat dan berserah diri kepada-Nya.
  • Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya.
  • Saya bersaksi bahwasanya Nabi kita Muhammad SAW adalah seorang hamba Allah dan utusan-Nya, pilihan dan kekasih-Nya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan shalawat dan salam serta keberkahan untuk-Nya, anggota keluarga, para sahabat yang mempunyai keutamaan dan kebenaran, para tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga Hari Kiamat.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertakwalah kepada Allah Yang memberi berkah. Karena barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Dia akan melindunginya, dan barangsiapa berserah diri kepada-Nya, maka Dia akan menjamin kebutuhannya.
Wahai hamba-hamba Allah... pada hari-hari seperti ini dalam setiap tahunnya, umat Islam menyambut peristiwa besar, dengan pandangan mata yang berbinar, menggetarkan hati orang-orang yang beriman, dan menjadikan jiwa yang mau berserah diri kepada Allah berbahagia.

Wahai hamba-hamba Allah, itulah kewajiban menunaikan ibadah haji di Baitullah, di tempat yang suci, di tempat-tempat ibadah yang dimuliakan, tempat diturunkannya wahyu, sumber risalah, dan poros sinar keimanan bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Dari sini kita dapat mengambil banyak pelajaran, mendapatkan rahmat yang diturunkan, diampuninya kesalahan-kesalahan, ditinggikannya derajat, dileburnya kejelekan-kejelekan, dan ditampakkannya kemurahan Tuhan semesta alam.

Sebagaimana hal ini, disebutkan dalam hadist yang Ash-Shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Ia berkata "Alhajju mabruru laisa lahu jadjal’u illa jannah" ”Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga”

Dalam Ash-Shahihan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu juga terdapat sebuah hadits yang menyebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam bersabda : 
Man hajja lilah  falam yarfast walaam yafsuq. Roja’u kayimu waladathu ’ummuh
”Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji dengan tidak disertai kefasikan dan perbuatan keji, maka ia akan kembali seperti pada saat ibunya melahirkannya.”

Para jamaah haji di Baitullah...agar orang yang berhaji dapat mengambil manfaat hajinya dan berpengaruh dalam hidupnya, memperoleh pahala dan anugerah yang telah disediakan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para haji, maka setiap orang yang berziarah ke Baitullah berkewajiban untuk komitmen terhadap aturan-aturan syariat dan petunjuk Rasulullah dalam menunaikan kewajiban yang agung ini.

Orang yang menunaikan ibadah haji harus memenuhi beberapa rukun dan persyaratannya, kewajiban-kewajinan dan kesunahannya, serta beberapa aturan dan tata caranya.

Wahai hamba Allah, wahai para jamaah haji di Baitullah, wahai orang-orang yang menelusuri dan mengikuti jejak Nabi-Nya, mengarungi samudra dan udara, bersusah payah menembus segala kesulitan, menahan berbagai derita, meninggalkan harta benda, anak-anak dan tanah air, inilah beberapa wasiat singkat dengan kalimat-kalimat yang pendek dan bermanfaat. Perhatikanlah, apalagi kalian sedang bersiap-siap untuk menunaikan ibadah yang agung ini :

Pertama : Pondasi utama disyariatkannya ibadah. baik haji dan yang lainnya adalah memurnikan ketauhidan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meyakini bahwa Dia-lah satu-satunya Dzat yang berhak disembah dan tidak ada yang lain.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

Qul’inna shaalaati wanusuki wamahyaaya wamamaati lillahi robbil’aalamiin. Lasyariikalahuu.
”Katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya.” (Al-An’am: 162-163)

Jadi, tujuan dan manfaat-manfaat utama disyariatkannya ibadah haji adalah, mewujudkan pemurnian ketauhidan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jauh dari kemusyrikan. Tidak seorang pun dari hamba-hamba Allah dalam memenuhi kebutuhan, menghilangkan kesusahan dan menyembuhkan sakit mereka untuk meminta perlindungan dan pertolongan kecuali kepada satu-satunya Dzat Yang mempunyai kekuasaan dan mengatur segala sesuatu, menghilangkan keburukan, mengatur pejalanan waktu dan masa, tiada tuhan selain Dia, tiada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Dia, Mahasuci Allah terhadap segala sesuatu yang dipersekutukan orang-orang musyrik kepada-Nya, Dia-lah Dzat Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

Kedua : Ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.   
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Illalillah addinukholishu" ”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (dari syirik).” (Az-Zumar:3)
Karena itu, tidak boleh ada riya’ dan tidak pula sum’ah (merasa mempunyai reputasi yang baik), tidak berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada selain-Nya, baik berupa tokoh maupun simbol-simbol, ataupun berupa aturan dan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan prinsip ini, melawan atau menguranginya.

Ketiga : Mewujudkan kesetiaan kepada kekasih yang terpilih
Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebagaimana yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, komitmen terhadap sunnah-sunnahnya dan menjadikannya sebagai teladan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam juga bersabda :  ”Ambilah (contohlah) dariku dalam menjalankan ibadah-ibadah kalian.”

Keempat : Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Merealisasikannya dengan ketaatan kepada-Nya, berusaha untuk mendekatkan diri dengan amal shaleh, terutama ketika kemuliaan waktu dan tempat telah bertemu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Watadzawwaduu faainna khoiroz dzadittaqwaa" ”Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa,” (Al-Baqarah :197). Berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, thawaf, membaca talbiah dan mengerjakan shalat, sebagai kebaktian dan kebaikan.
   
Kelima : Menghayati keagungan dari diwajibkannya ibadah ini.
Ibadah haji bukan sekedar wisata darat, pengisi waktu senggang, dan tidak pula melestarikan tradisi. Akan tetapi, ia adalah perjalanan keimanan yang dipenuhi dengan udara keluhuran dan kemuliaan, tujuan-tujuan yang terhormat, kesempatan besar untuk  bertaubat dan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, menapaki jalan-Nya yang lurus, jauh dari polusi-polusi akidah dan pemikiran, serta terhindar dari penyimpangan strategi dan perilaku.
 
Keenam : Menghayati kedudukan Baitullah yang agung. Merenungi kesucian tempat yang penuh berkah, dan segala keagungan dan kewibawaan yang dilingkarkan padanya. Sehingga tidak ada pertumpahan darah, tidak ada penebangan pepohonan, tidak ada pengusiran burung-burung dan binatang buruan, tidak ada pengambilan barang-barang temuannya kecuali orang yang mengenalinya. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam ash-Shahihain yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu. Sehingga pepohonan, manusia, dan binatang dapat hidup dengan aman dari rasa takut dan gangguan.

Ketujuh : Persiapan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. hukum-hukum fikih, dan benar-benar memahami aturan-aturan dalam menunaikan ibadah haji, baik teori maupun pengamalan. Serta bertanya kepada ahlinya atas persoalan yang terasa sulit baginya. Karena kita tidak diperkenankan untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ketidaktahuan, atau menunaikan ibadah-ibadahhaji tanpa petunjuk. Hal ini merupakan perkara yang harus diperhatikan para jamaah haji dengan seksama.

Kedelapan : Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan segala sesuatu yang diharamkan.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Falaa rafats walaa fusuqi walaa jida lafil hajji" ”Maka tidak boleh rafats (kejorokan), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (Al-Baqarah:197)
Selain itu, kita juga harus menghiasi dan mengharumkan jiwa raga kita dengan ketaatan dan jauh dari kemungkaran dalam bentuk apapun.

Kesembilan : Melakukan ibadah dan segala perbuatan yang dapat
menambah kebaikan orang yang berhaji dan menyempurnakan ibadahnya dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antara usaha-usaha yang dapat dilakukannya adalah memilih teman yang shaleh, dan mencari rezeki yang baik dan halal, sebab semua itu merupakan faktor diterimanya ibadah dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
   
Kesepuluh : Berhias diri dengan keluhuran etika Islam.
Aturan-aturan syariat yang tinggi, meninggalkan semua perkara yang bertentangan dengan etika dan sopan santun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau kepada hamba-hamba-Nya. Berusaha waspada agar tidak menyakiti Umat Islam baik dengan ucapan, perbuatan, tangan, dan mulut. Karena ibadah haji merupakan akademi untuk mengajarkan etika yang mulia, perangai yang terpuji, kehormatan yang menyeluruh, keteladanan, kesabaran dan mampu menahan beban penderitaan, mau bekerjasama dan saling membantu, jauh dari kekerasan dan kebengisan, serta tidak berdesak-desakan dan saling menyakiti.

Para tamu Allah jamaah konsorsim Al-Makarim! Kalian berduyun-duyun untuk dapat bertamu ke tempat yang suci ini. Karena itu, bersyukurlah kepada Allah, fokuskanlah dalam beribadah dan ketaatan kepada-Nya, kalian telah diberi berbagai macam fasilitas dan pelayanan yang melimpah dengan anugerah Allah subhanahu wa Ta’ala, dan dengan anugerah orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk melayani para jamaah haji dengan penuh perhatian.

Semoga Allah subhanahu wa Ta’ala memberikan pahala yang melimpah kepada mereka dan menjadikannya sebagai tambahan dalam timbangan kebaikan mereka.

Kita meminta kepada Allah, sebagaimana Allah memberikan taufiq kepada kita untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu Haji ke Baitullah. Mudah-mudahan Allah berkenan menerima haji yang kita laksanakan, dan menjadikan haji kita sebagai haji yang mabrur, perjalanan yang disyukuri, dosa-dosa yang diampuni, dan juga mudah-mudahan Allah memberi rezeki kepada kita berupa dapat istiqamah Kontinu) dalam menjalankan syariat-Nya untuk selamanya. Sebab Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ibu Bapak  yang menunaikan ibadah  haji disini  telah menengadahkan telapak tangannya dengan penuh tunduk patuh serta mencucurkan air mata sebagai rasa takut maupun penyerahan diri. Semua kaum muslimin yang berada di Makkah memanfaatkan waktu dan tempat yang agung dengan berbagai perbuatan baik dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagian saudara kita yang tidak pergi haji pada hari-hari haji ada yang semangat mengisi waktu-waktu tersebut dengan shalat, puasa, membaca Al-qur’an, shalat malam, berkurban, dan membaca takbir. Sedangkan yang lain, adapula yang terus bermalas-malasan. Akhirnya mereka ketinggalan hari-hari yang penuh berkah sehingga orang yang merugi dan menyesal selamanya.

Saudaraku seiman dan sekeyakinan...namum kemudian pertanyaan yang muncul, yang dilontarkan pada diri sendiri pada saat seperti ini adalah: Apa yang harus dikerjakan dan diperbuat sepulang dari Arafah? Apakah persoalan hanya terbatas pada ini saja, lalu para manusia kemudian kembali mengerjakan perbuatan sebagaimana mereka berhaji?

Atau apakah disana memang terdapat rencana dan cita-cita tinggi yang akan dilaksanakan calon haji setelah mereka pulang dari Baitullah..? Apakah sikap dan akhlak akan berubah dan setiap orang yang telah berhaji akan memandang hidupnya dengan pandangan yang benar..? Serta akan memulai dengan lembaran yang baru dan bertolak dengan sungguh-sungguh atas dasar syariat Allah dan Sunnah Nabi-Nya..?

Apakah para jamaah hajii akan sanggup merubah hidupnya yang buruk menjadi baik..? Dan dari baik menjadi yang lebih baik..? Apakah manfaat berhaji dan dampak yang ditimbulkannya akan senantiasa membekas dalam hatinya..? Sehingga bisa melewati batas tempat dan waktu yang khusus, untuk menuju waktu dan tempat yang lebih luas dan umum..? Serta lebih kompleks dari segala segi maupun penjuru..? Inilah beberapa pertanyaan yang patut untuk diajukan kepada para jamaah haji.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah..sesungguhnya ibadah haji merupakan hari kelahiran baru dan janji kebahagiaan. Bagi seseorang yang sedang berhaji wajib memperhatikan beberapa manfaat dan dampak dari ibadah haji, dan tidak boleh mengabaikan begitu saja. Hendaknya setiap orang memanfaatkan momentum haji seperti ini sebagai titik tolak yang sungguh-sungguh untuk mengerjakan amal shaleh dan menjadikan sebagai kesempatan emas untuk bertaubat yang sesungguhnya.

Setelah pelaksanaan ibadah haji yang sangat agung ini, kita wajib mawas diri dan menghitung-hitung diri kita sendiri apakah dampak kewajiban haji ini telah menancap dan membekas dalam kehidupan kita atau belum? Ataukah kewajiban haji tersebut berlalu begitu saja bagaikan mega pada musim panas..? Ataukah hilang musnah dengan cepat bagaikan cahaya kilat yang tanpa dampak dan bekas maupun manfaat sama sekali..?

Kaum muslimin wajib wajib menyadari bahwa musim-musim kebajikan merupakan perubahan yang sempurna dan penggantian yang menyeluruh pada setiap orang besar (wibawa) maupun rakyat kecil, dari kehidupan melupakan Allah menuju taubat, istiqamah, dan tunduk patuh terhadap hukum Allah. Termasuk penyesatan yang yang dilakukan setan dan penipuan terhadap nafsu amarah yang buruk adalah, manusia-manusia kembali ke belakang dengan mengulang lagi perbuatan buruknya, sama sekali tidak mau dan tidak peduli untuk berpandangan ke depan. Mereka tetap melaksanakan maksiat, bahkan makin merajalela. Kemudian akhirnya mereka hidup menjadi korban tipuan nafsu dan tipu daya setan sampai meninggal dunia dan tidak sadarkan diri. Na’udzu billah min dzalik.

Saudaraku seagama, para jamaah haji Baitul Haram, wahai orang-orang yang telah memenuhi panggilan Tuhan dan kalian telah mengeraskan bacaan talbiyah sebagai tanda pemenuhan perintah-Nya; inilah Tuhan kalian telah menyeru dengan seruan iman; Hendaklah kalian istiqamah dalam syariat-Nya dan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Bertakwalah kalian kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya. Beribadahlah kalian kepada Allah dengan ibadah yang sebenarnya. Dalam hidup sampai mati kalian.
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Yaa ayyuhalladziina aamanuustajiibuu lilahi walirrosuli idza da’aakum limaa yuhyiikum wa’lamuu annalloha yahulu bainalmar’i waqolbihii waannhu ilaihi yuhsyoruun" ”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (Al-Anfal:24)

Allah juga berfirman :
"Yaa ayyuhalladziina ’aamanuut taquullaaha haqqu tufaatihii walaa tamuutunna illa waantum muslimuun" ”hai orang-orang yangberiman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran:102)
Oleh karena itu, penuhilah-wahai para hamba Allah-panggilan Allah. Penuhilah semua perintah-Nya dalam setiap kehidupan dan setiap urusan kalian, sebagaimana kalian memenuhi panggilan Allah berupa kewajiban ibadah haji yang mulia ini.
Umat Islam yang berbahagia...sungguh termasuk sesuatu yang menoreh di dalam jiwa adalah manakala melewatkan kesempatan yang mulia ini dengan tanpa bisa mengambil nasehat, manfaat, serta pelajaran darinya tanpa merasakan beberapa dampak yang ditimbulkannya, baik yang bersifat akidah, moralitas, sosial, maupun yang lainnya; juga tidak peka terhadap beberapa segi yang berbeda dari realita umat.
Bertakwalah kita kepada Allah wahai para hamba Allah. Ketahuilah bahwa sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Seburuk-buruk persoalan adalah yang dibuat-buat. Setiap yang dibuat-buat adalah bi’dah dan setiap bi’dah adalah sesat.
Ketahuilah sesungguhnya kita sebentar lagi akan dimintai pertanggungjawaban atas umur yang telah berlalu, baik buruk maupun bagus. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufiq oleh Allah sehingga dapat mengakhiri usianya dengan taubat yang benar dan dengan syarat-syarat yang diperlukan. Yaitu menghapus dosa-dosa yang ada, menyesali perbuatan dosa, dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi. Sebab semua amal adalah tergantung akhirannya.

Allah berfirman :
"Innallooha wamaa’iikatahu yusholluna ’alaan nabiyyii yaa’ayyuhalladziina ’aamanuu sholluu ’alaihi wasallimuu taslimaan" ”Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab:56)
 
Kutbah Arafah : Hikmah Dan Makna Filosofi Haji
Oleh : H. Muhammad Hasan
, S.Ag

Semoga Bermanfaat... 
Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 11 Juni 2011 21:39 )